Demam Typhoid Pada Anak

DEMAM TYPHOID PADA ANAK

 

     Demam bukanlah suatu penyakit, namun demam merupakan suatu tanda atau gejala dari suatu penyakit. Beberapa penyakit yang dimanifestasikan dengan adanya demam atau peningkatan suhu tubuh terutama adalah penyait infeksi, dehidrasi, gangguan pusat pengatur panas, dan keracunan termasuk keracunan obat, proses imun dan sebagainya. Pada umumnya demam tidak berbahaya, namun demam yang tinggi dapat membahayakan anak. Oleh karena itu pada bab ini akan dipaparkan tentang definisi dari demam, patofisiologi terutama terkait dengan kasus, dan beberapa penanganan demam pada anak.

  1. A.    Definisi Demam

     Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal 37 ˚C yang merupakan respon fisiologis tubuh terhadap penyakit yang di perantarai oleh sitokin dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh serta aktivitas sistem imun (Hakim & Ahrens, 2002 dalam Kania, 2007).

     Menurut International Union of Physiological Sciences Commission for Thermal Physiology dalam Rahdi, et al (2009) demam adalah suatu keadaan peningkatan suhu inti, yang merupakan bagian dari respons pertahanan organisme multiselular/tubuh terhadap invasi mikroorganisme atau zat-zat pathogen serta zat yang dianggap asing oleh tubuh.

     Demam adalah gejala berupa peningkatan suhu tubuh sebagai respon normal tubuh terhadap rusaknya termoregulasi. Suhu tubuh ketika demam biasanya lebih dari 38,3 ̊C, ketika suhu tubuh melebihi 41 ̊C, maka sudah dikatakan sebagai hiperpireksia (Calvello, Hu, dan Khoujah, 2011).

      Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa demam merupakan peningkatan suhu tubuh di atas batas normal yang terjadi sebagai suatu bentuk respon fisiologis tubuh terhadap gangguan yang terjadi dalam tubuh termasuk penyakit ataupun gangguan termoregulasi.

  1. B.     Karakteristik Demam

     Karakteristik demam sangat bergantung pada tingkat kenaikan suhu tubuh. Suhu tubuh normal sangat bervariasi. Hal tersebut terjadi karena suhu tubuh dipengaruhi oleh beberapa factor meliputi individu dan lingkungan, usia, dan aktivitas fisik. Berikut ini adalah rentang normal suhu tubuh berdasarkan tempat pengukuran yang berbeda menurut Rahdi dan Barry (2006) dan Avner (2009), yaitu :

Tabel 2.1 : Suhu tubuh normal berdasarkan tempat pengukuran.

Tempat Pengukuran

Jenis Termometer

Rentang dan Rerata  Suhu Normal (oC)

Demam (oC)

Aksila

Air raksa, elektronik

34,7 – 37,3; 36,4

37,4

Sublingual

Air raksa, elektronik

35,5 – 37,5; 36,6

37,6

Rektal

Air raksa, elektronik

36,6 – 37,9; 37

38

Telinga

Emisi infra merah

35,7 – 37,5; 36,6

37,6

     Demam dianggap sebagai pertanda dari suatu penyakit, terutama penyakit infeksi. Karakteristik demam dari setiap penyakit berbeda antar yang satu dengan yang lainnya. Untuk menginterprestasikan karakteristik demam oada penyakit tertentu, maka perlu diketahui beberapa pola demam yang sering terjadi pada anak-anak.  Berikut ini adalah beberapa pola demam yang sering ditemui sebagai tanda dan gejala penyakit pada anak, yaitu :

  1. Demam kontinu, yaitu demam yang ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0,4 oC selama periode 24 jam.
  2. Demam remitten, yaitu demam yang ditandai oleh penurunan suhu setiap hari tetapi tidak mencapai batas normal dengan fluktuasi melebihi 0,5 oC per 24 jam. Pola ini merupakan tipe demam yang paling sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu
  3. Demam intermitten, yaitu demam dimana suhu kembali normal setiap hari, pada umumnya pada pagi hari, dan puncaknya pada siang hari.

 

Gambar 2.1 : Demam Intermitten

  1. Demam septik, yaitu suatu kondisi dimana terdapat perbedaan suhu yang sangat besar antara puncak dengan titik terendah pada demam remitten dan intermitten.
  2. Demam quotidian, yaitu demam yang memiliki dua titik tertinggi kemudian turun dalam siklus 12 jam.

 

Gambar 2.2 : Demam quotidian

  1. Demam relapsing, yaitu demam yang tinggi terjadi secara mendadak, dan berulang secara tiba-tiba berlangsung selama 3 – 6 hari, diikuti oleh periode bebas demam dengan durasi yang hampir sama. Suhu maksimal dapat mencapai 40,6 oC.
  2. Demam rekuren, yaitu demam yang timbul kembali setelah periode bebas demam dengan interval yang tidak teratur pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama, contohnya traktus urinarius atau sistem organ multiple.

( Fisher & Boyce, 2005; Powel, 2007; Woodward, 1997).

 

     Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa pola demam yang sering ditemui pada penyakit anak.

Tabel 2.2 : Pola demam pada penyakit anak.

Pola demam

Penyakit

Kontinu

Demam tifoid, malaria falciparum

Remitten

Sebagian besar penyakit virus dan bakteri

Intermitten

Malaria, limfoma, endokarditis

Hektik atau septik

Penyakit Kawasaki, infeksi pyogenik

Quotidian

Malaria karena Plasmodium vivax

Double quotidian

Kala azar, arthritis gonococcal, juvenile rheumathoid arthritis, beberapa drug fever

Relapsing atau periodik

Malaria tertiana atau kuartana, brucellosis

Demam rekuren

Familial Mediterranean fever

   

     Pada kasus Typhus Abdominalis, demam yang terjadi dimulai pada minggu pertama ketika pertama kali kuman masuk ke dalam intestinal. Pada saat ini terjadi demam yang  naik turun. Suhu tubuh anak naik pada sore dan malam hari dan akan menurun pada pagi hari. Demam pada periode ini dapat dikategorikan dalam demam intermitten. Pada minngu selanjutnya, ketika telah terjadi infeksi pada intestinal, suhu tubuh anak masih tetap tinggi. Meskipun dalam periode ini suhu tubuh anak tidak setinggi pada fase bakterimia, namun demam yang terjadi pada periode ini berlangsung secara terus-menerus atau dapat dikatakan sebagai demam kontinu (Muttaqin & Sari, 2011).

 

Gambar 2.3 : Pola demam pada Typhus Abdominalis

  1. C.    Patofisiologi Demam Pada Typhus Abdominalis

     Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas nilai normal. Mekanisme naik turunnya suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang mengatur keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Hipotalamus posterior bertugas meningkatkan produksi panas dan mengurangi pengeluaran panas. Bila hipotalamus posterior menerima informasi suhu lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh maka pembentukan panas ditambah dengan meningkatkan metabolisme dan aktivitas otot rangka dalam bentuk menggigil dan vasokontriksi kulit, serta pengurangan produksi keringat sehingga suhu tubuh konstan. Hipotalamus anterior mengatur suhu tubuh dengan cara mengeluarkan panas. Bila hipotalamus anterior menerima informasi suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan vasodilatasi kulit dan menambah produksi keringat (Keyman, 2003; Nizet, Vinci & Lovejoy, 1994 dalam Kania, 2007).

     Pada umumnya peninkatan suhu tubuh terjadi akibat peningkatan set point. Infeksi bakteri menimbulkan demam karena endotoksin bakteri merangsang pembentukan pirogen endogen. Pirogen endogen bekerja di hipotalamus dengan bantuan enzim siklooksigenase membentuk protaglandin selanjutnya prostaglandin meningkatkan set point hipotalamus. Selain itu pelepasan pirogen endogen diikuti oleh pelepasan cryogens (antipiretik endogen) yang ikut memodulasi peningkatan suhu tubuh dan mencegah peningkatan suhu tubuh pada tingkat yang mengancam jiwa (Keyman, 2003; Nizet, Vinci & Lovejoy, 1994 dalam Kania, 2007).

     Pada kasus Typhus Abdominalis, demam yang terjadi sebagai akibat proses inflamasi sietemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi. Kuman yang masuk dalam usus halus akan melakukan invaginasi ke dalam plak payer, kemudian kuman masuk ke dalam saluran limpatik dan sirkulasi darah dan terjadilah bakterimia. Bakterimia tersebut mendasari timbulnya gejala seperti pusing, mual, muntah dan peningkatan suhu (Mutaqqin & Sari, 2011).

     Peningkatan suhu pada kasus ini disebabkan karena Salmonella Typhi melepaskan endotoksin yang merangsang sintesis pirogen endogen yang mempengaruhi mekanisme termoregulasi di hipotalamus. Selain itu sekresi endotoksin juga mempengaruhi aktivitas metabolisme. Dalam hal ini akan terjadi hipermetabolisme yang mengakibatkan tubuh mudah merasa lelah. Efek endotoksin lainnya ke hati dan limpa sehingga terjadi splenomegali dan hepatomegali serta menyebar ke pembuluh darah kapiler yang dimanifestasikan dengan lidah yang kotor (hiperemi) (Juwono, 1996).

 

Salmonella Typhi

 

Pathways :

 

       
     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hipertermi

 

Badan cepat lelah

 

                                        

 

 
 

Intoleransi aktivitas

 

 

 

 

 

Gambar 2.4 : Pathways demam typhoid.

(Sumber : Juwono, 1996; Muttaqin & Sari, 2011; Sodikin, 2011)

 

  1. D.    Penanganan Demam Pada Anak

     Pada dasarnya proses terjadinya demam dapat menguntungkan dan dapat pula merugikan. Pada tingkat tertentu demam merupakan bagian dari respon fisiologis pertahanan tubuh, yaitu daya fagositosis meningkat dan viabilitas kuman menurun. Akan tetapi demam dapat juga merugikan karena anak menjadi gelisah, nafsu makan dan minum berkurang, tidak dapat tidur dan menimbulkan kejang demam. Dari hasil penelitian didapatkan 80% orangtua mempunyai fobia demam. Mereka mengira bahwa bila tidak diobati, demam anaknya akan semakin tinggi. Demam < 39 ˚C pada anak yang sebelumnya sehat pada umumnya tidak memerlukan pengobatan. Bila suhu naik > 39 ˚C, anak cenderung tidak nyaman dan pemberian obat-obatan penurun panas sering membuat anak merasa lebih baik (Hakim & Ahrens, 2002 dalam Kania, 2007).

     Pada hakekatnya, untuk menurunkan suhu tubuh anak saat demam dapat dilakukan dengan metode fisik, pemberian obat antipiretik atau kombinasi dari keduanya. Yang dimaksud dengan metode fisik adalah cara penurunan demam dengan menggunakan kompres hangat/dingin, penggunaan selimut dingin, atau dengan menggosok tubuh anak dengan alkohol (Lubis, dkk, 2011).

     Banyak refrensi yang menyebutkan tentang penatalaksanaan demam dengan metode fisik dan pemberian antipiretik. Berikut ini adalah cara menurunkan demam, yaitu :

  1. Buka selimut pasien dan berikan pakaian yang tipis dan tidak menyerap panas.
  2. Anjurkan anak untuk meningkatkan intake cairan dan lakukan hidrasi cairan secara maintenance.
  3. Jaga kesejukan suhu lingkungan/ruangan.
  4. Berikan antipiretik non aspirin (Hatfield, 2008).
  5. Lakukan monitoring nadi dan respirasi untuk mengantisipasi terjadinya hipoksia.
  6. Lakukan kompres di axial dan lipat paha serta mandi atau seka ekstrimitas dengan air hangat (Taylor & Ralp, 2003)

     Dalam pemberian antipiretik pada anak demam biasanya digunakan paracetamol dan ibuprofen. Namun, penggunaan obat ini tidak dianjurkan secara maintenance atau terus menerus. Antipiretik hanya diberikan pada saat suhu tubuh anak mencapai 37,8 ̊C (Poirier, Collins, dan McGuire, 2010). WHO tidak menganjurkan penggunaan rutin antipiretik pada anak, terutama pada situasi keluarga harus menanggung biaya pengobatan. Jadi penggunaan antipiretik pada anak direkomendasikan hanya bila demam menimbulkan ketidaknyamanan misalnya anak menangis berkepanjangan, anoreksia, dan gangguan tidur atau ketika suhu tubuh mencapai 39 ̊C (Lubis, dkk, 2011).

     Selain penanganan di atas, perlu diperhatikan juga apabila terjadi hiperpireksia. Hiperpireksia adalah keadaan suhu tubuh di atas 41 ˚C. Hiperpereksia sangat berbahaya pada tubuh karena dapat menyebabkan berbagai perubahan metabolisme, fisiologi dan akhirnya kerusakan susunan saraf pusat. Penatalaksanaan pasien hiperpireksia berupa :

  1. Monitoring tanda vital, asupan dan pengeluaran.
  2. Pakaian anak di lepas dan berikan oksigen dengan humidifier yang tidak terlalu kering.
  3. Berikan anti konvulsan bila ada kejang.
  4. Berikan antipiretik. Asetaminofen dapat diberikan per oral atau rektal. Tidak boleh memberikan derivat fenilbutazon seperti antalgin.
  5. Berikan kompres es pada punggung, leher, aksila, atau lipat paha.
  6. Bila timbul keadaan menggigil dapat diberikan chlorpromazine 0,5-1 mg/kgBB (I.V).
  7. Untuk menurunkan suhu organ dalam berikan cairan NaCl 0,9% dingin melalui nasogastric tube ke lambung/per enema.
  8. Bila timbul hiperpireksia maligna dapat diberikan dantrolen (1 mgr/kgBB I.V.), maksimal 10 mgr/kgBB

(Calvello, Hu, dan Khoujah, 2011).

     Pada kasus demam tiphoid, pada umumnya penatalaksanaan sama seperti pada kasus demam secara umum, yaitu dengan berusaha menurunkan suhu tubuh saat anak demam. Selain hal tersebut, biasanya juga dilakukan beberapa tindakan misalnya dengan pemerksaan laboratorium, yaitu tes widal atau dengan pemeriksaan kultur sum-sum tulang. Setelah diagnosis terbukti bahwa pasien menderita demam tipoid, biasanya pasien mendapatkan antipiretik ataupun antibiotik untuk mencegah aktivitas mikroorganisme berkembang lebih invasif lagi. Pada anak-anak antibiotik yang digunakan adalah ceftriaxon (Sethuraman dan Kaamat, 2007).

  1. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Demam Tipoid
  2. Pengkajian
    1. Keeluhan utama berupa perasaan tidak enak badan, nyeri kepala, lesu, kurang bersemangat, dan nafsu makan berkurang.
    2. Suhu tubuh pasien meningkat pada sore dan malam hari erta menurun pada pagi hari.
    3. Kesadaran umumnya menurun yaitu apatis sampai somnolen.
    4. Pemeriksaan fisik

1)      Mulut : lidah kotor, nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah.

2)      Abdomen : perut kembung, konstipasi atau diare.

3)      Hati dan limfe membesar disertai nyeri perabaan.

  1. Pemeriksaan laboratorium

1)      Pemeriksaan darah tepi terdapat leucopenia, limfositosis.

2)      Pemeriksaan widal positif.

(Sodikin, 2011)

  1. Diagnosa keperawatan dan intervensi
    1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.

Indikator menurut NANDA International (2012) :

1)      Kisaran suhu tubuh di atas nilai normal.

2)      Takikardi, takipnea, dan kejang.

3)      Kulit kemerahan dan terasa hangat.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam diharapkan hiperthermi dapat teratasi dengan kriteria hasil :

1)      Suhu tubuh anak dalam rntang normal (36,5-37,5 ˚C)

2)      Leukosit, trombosit dalam batas normal.

3)      Tanda-tanda vital dalam batas normal.

4)      Tidak ada tanda-tanda dehidrasi :

Intervensi;

1)            Monitor suhu tubuh anak sesering mungkin.

2)            Monitor status hidrasi anak.

3)            Monitor nadi, tekanan darah, dan respirasi.

4)            Monitor nilai hemoglobin, leukosit, dan trombosit.

5)            Monitor intake dan output cairan

6)            Lakukan teknik penurunan suhu tubuh dengan teknik tepid sponge.

7)            Libatkan keluarga dalam setiap tindakan.

8)            Anjurkan anak untuk meningkatkan masukan cairan peroral

9)            Anjurkan anak untuk meningkatkan tirah baring.

10)        Tingkatkan sirkulasi udara dalam ruangan.

11)        Kolaborasi untuk pemberian cairan intravena.

12)        Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat penurun panas.

 

  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare.

Indikator menurut NANDA International (2012) :

1)      Kram dan nyeri abdomen

2)      Menghindari makan

3)      Berat badan 20% dibawah berat badan ideal

4)      Diare, bising usus hiperaktif

5)      Mukosa pucat, ketidakmampuan memakan makanan

6)      Tonus otot menurun, kelemahan otot pengunyah

7)      Sariawan ronnga mulut

8)      Penurunan berat badan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :

1)         Tidak ada penurunan berat badan.

2)         Anak dapat memenuhi nutrisi seecara adekuat.

Intervensi :

1)      Kaji adanya alergi makanan

2)      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

3)      Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

4)      Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

5)      Berikan substansi gula

6)      Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi

7)      Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

8)      Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

9)      Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

10)  Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

11)  Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

 

  1. Intoleransi aktivitas b/d imobilisasi/tirah baring, kelemahan.

Indikator menurut NANDA International (2012) :

1)      Respon tekanan darah abnormal terhadap intoleransi aktivitas

2)      Menyatakan merasa letih

3)      Menyatakan meraa lemah

4)      Ketidaknyamanan setelah beraktivitas

5)      Perubahan EKG mencerminkan aritmia dan iskemia.

Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan diharapkan anak dapt meningkatkan toleransi aktivitas dengan kriteria hasil :

1)      Suhu tidak naik ketika beraktivitas

2)      Tidak ada kelemahan.

Intervensi :

1)      Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.

2)      Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

3)      Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

4)      Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

5)      Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

6)      Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai

7)      Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

8)      Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

9)      Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

10)  Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

11)  Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: